Pages

Sabtu, 21 Desember 2013

Menghadapi Kezaliman Penguasa Dengan Sabar dan Do’a, Bukan Aksi Di Jalanan

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang melihat sesuatu yang ia benci pada pemimpinnya, hendaklah ia bersabar, karena sungguh siapa yang memberontak kepada pemerintah muslim kemudian ia mati, maka mati jahiliyah.” [Muttafaq 'alaih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma]

Beliau shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

Sungguh kalian akan melihat kecurangan dan kemungkaran (penguasa).” Mereka bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tunaikan hak mereka dan mintalah (berdoa) kepada Allah hak kalian.” [Muttafaq 'alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu]

Memberontak yang dilarang ada dua bentuk, dengan senjata dan kata-kata; menjelek-jelekan pemerintah muslim di khalayak, seperti menyebarkan aib di media dan melakukan demonstrasi, terlarang dalam Islam, dan sebagai solusinya sabar dan doa.

Al-Imam Al-Hasan Al-Basri rahimahullah berkata,

“Sungguh Al-Hajjaj (penguaza zalim) adalah azab Allah, janganlah kalian hadapi azab Allah dengan kekuatan kalian, tapi hendaklah merendahkan diri karena takut kepada Nya dan tunduk berdoa, karena Allah ta’ala berfirman,

      يَتَضَرَّعُونَ وَمَا لِرَبّهِمْ اسْتَكَانُوا فَمَا بِالْعَذَابِ أَخَذْنَهُمْ وَلَقَدْ

“Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.”  [Al-Mu’minun: 76]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

"Ulama memerintahkan umat untuk sabar menghadapi kezaliman penguasa dan tidak memberontak, meski banyak ahli ilmu dan ibadah pernah memberontak tetap saja hal itu salah.” [Minhajus Sunnah, 4/315-316]

0 komentar:

Posting Komentar