Nabi shallallahu’alaihi
wa sallam bersabda,
“Siapa yang melihat
sesuatu yang ia benci pada pemimpinnya, hendaklah ia bersabar, karena sungguh
siapa yang memberontak kepada pemerintah muslim kemudian ia mati, maka mati jahiliyah.” [Muttafaq
'alaih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma]
Beliau
shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,
Sungguh kalian akan
melihat kecurangan dan kemungkaran (penguasa).” Mereka bertanya, “Apa yang
engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tunaikan
hak mereka dan mintalah (berdoa) kepada Allah hak
kalian.” [Muttafaq 'alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu]
Memberontak yang
dilarang ada dua bentuk, dengan senjata dan kata-kata; menjelek-jelekan
pemerintah muslim di khalayak, seperti menyebarkan aib di media dan melakukan
demonstrasi, terlarang dalam Islam, dan sebagai solusinya sabar dan doa.
Al-Imam Al-Hasan
Al-Basri rahimahullah berkata,
“Sungguh Al-Hajjaj
(penguaza zalim) adalah azab Allah, janganlah kalian hadapi azab Allah dengan
kekuatan kalian, tapi hendaklah merendahkan diri karena takut kepada Nya dan
tunduk berdoa, karena Allah ta’ala berfirman,
يَتَضَرَّعُونَ وَمَا لِرَبّهِمْ اسْتَكَانُوا فَمَا بِالْعَذَابِ أَخَذْنَهُمْ وَلَقَدْ
“Dan
sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak
tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan
merendahkan diri.”
[Al-Mu’minun: 76]
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah berkata,
"Ulama memerintahkan
umat untuk sabar
menghadapi kezaliman penguasa dan tidak memberontak, meski banyak ahli ilmu dan ibadah
pernah memberontak tetap saja hal itu salah.” [Minhajus Sunnah, 4/315-316]



0 komentar:
Posting Komentar